Kolaborasi Keluarga dan Guru, Pemerintah Perkuat Dukungan Pendidikan 3 T

  • Jumat, 20 Februari 2026 - 07:30:42
  • Oleh admin

Riaupintar.com -- Pemerintah terus meningkatkan peran negara dalam mendukung perubahan pendidikan di daerah yang terdepan, tertinggal, dan terluar (3T). Bantuan ini tidak hanya fokus pada peningkatan kemampuan para guru, tetapi juga pada penyebaran fasilitas dan ketersediaan teknologi pendidikan. Langkah ini menjadi dasar yang penting untuk membangun sumber daya manusia yang berkualitas dari seluruh penjuru negeri.


Direktur Jenderal untuk Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru, Nunuk Suryani, menekankan bahwa keberhasilan guru di daerah 3T menunjukkan bahwa keterbatasan bukan menjadi halangan untuk memberikan pembelajaran yang berarti.


 “Kisah-kisah positif dari para guru menunjukkan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk mewujudkan pembelajaran yang bermanfaat. Pemerintah akan terus berupaya memastikan dukungan yang merata, mulai dari peningkatan kemampuan, penguatan distribusi guru, serta penyediaan teknologi pendidikan seperti Papan Interaktif Digital dan akses internet yang lebih luas,” jelas Nunuk.


Sebagai wujud nyata dari dukungan, pemerintah berkomitmen untuk memberikan Tunjangan Khusus Guru (TKG) bagi pendidik di daerah 3T. Pada tahun 2025, sebanyak 43. 393 guru tercatat menerima TKG dengan total anggaran yang dihabiskan mencapai Rp636. 710. 771. 290. Setiap guru yang menerima tunjangan mendapatkan Rp2 juta setiap bulan. 


Komitmen ini sejalan dengan semangat para pendidik di lapangan, seperti Risky Jalil, seorang guru matematika di SMAS Ilmanah, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Sejak 2024, ia telah mengabdikan diri di daerah 3T meskipun menghadapi berbagai tantangan. Ia menyebutkan bahwa tantangan terbesar dalam proses pembelajaran tidak hanya terkait dengan fasilitas, tetapi juga akses menuju sekolah.



“Tantangan terbesar dalam proses pembelajaran di wilayah tersebut adalah transportasi menuju sekolah terutama saat cuaca buruk seperti keras ombak. Fasilitas belajar seperti buku, dan jaringan internet juga terbatas. Selain itu, kemampuan literasi dasar sebagian murid masih rendah, sehingga proses pembelajaran membutuhkan waktu lebih lama,” ungkapnya.


Di tengah berbagai keterbatasan tersebut, dukungan pemerintah dan berbagai pihak menjadi penguat bagi guru untuk terus berinovasi. Risky menyampaikan bahwa keterbatasan alat peraga dan teknologi tidak menghalanginya untuk tetap kreatif dalam mengajarkan Matematika. 


“Khusus untuk pembelajaran matematika saya sering berinovasi dengan memanfaatkan benda-benda di sekitar karena keterbatasan alat peraga dan teknologi. Misalnya, untuk mengajarkan operasi hitung dasar, saya menggunakan batu sebagai alat bantu konkret agar murid lebih mudah memahami konsep penjumlahan dan pengurangan,” ucap Risky.


Dalam membangun motivasi belajar, ia menekankan pentingnya kedekatan emosional dengan murid sebagai bagian dari penguatan ekosistem pendidikan.


 “Cara saya dalam membangun motivasi belajar murid di tengah berbagai keterbatasan adalah saya berusaha membangun hubungan yang dekat dengan murid, memahami latar belakang mereka, dan memberi apresiasi sekecil apa pun pencapaian mereka. Saya sering mengaitkan pelajaran dengan cita-cita mereka, memberikan pujian dan perhatian secara konsisten sangat membantu meningkatkan rasa percaya diri mereka,” tambahnya.



Ia pun menyampaikan harapannya terhadap masa depan pendidikan di wilayah 3T. “Saya sangat berharap ada pemerataan kualitas pendidikan, baik dari segi fasilitas, distribusi guru, maupun akses teknologi. Semoga murid di wilayah 3T memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan yang lebih baik,” jelasnya.


Kehadiran pemerintah melalui berbagai program strategis turut memperkuat motivasi guru untuk terus mengabdi. Risky menilai, kebijakan Tunjangan Khusus bagi guru di daerah 3T telah memberikan dampak nyata dalam mendukung keberlanjutan pembelajaran.


 “Program pemerintah melalui pemberian Tunjangan Khusus bagi guru di daerah 3T telah memberikan dampak positif dalam meningkatkan kesejahteraan dan motivasi kerja guru. Dengan adanya tunjangan tersebut, guru lebih termotivasi untuk melaksanakan tugas secara optimal, meningkatkan kedisiplinan dan kehadiran, serta berkomitmen untuk tetap mengabdi di daerah terpencil. Dampaknya, proses pembelajaran menjadi lebih stabil,” kata Risky.


Selain dukungan kebijakan, kolaborasi masyarakat juga menjadi bagian penting dalam memperkuat keberhasilan program pendidikan. 



“Dukungan yang paling berarti bagi saya adalah kepercayaan dan kolaborasi dari masyarakat sekitar. Ketika orang tua mulai percaya bahwa sekolah dapat membawa perubahan bagi masa depan anak-anak mereka, itu menjadi kekuatan besar dalam menjalankan tugas sebagai pendidik. Keterlibatan mereka, meskipun sederhana seperti memastikan anak hadir tepat waktu atau mendukung kegiatan sekolah sangat membantu keberhasilan pembelajaran. Selain itu, bantuan buku, alat peraga, dan pelatihan dari berbagai pihak juga sangat membantu,” tutur Risky dalam keterangan yang disampaikan pada Kamis 19 Februari 2026.


Melalui sinergi antara kebijakan pemerintah, dedikasi guru, serta dukungan keluarga dan masyarakat, pembangunan sumber daya manusia di wilayah 3T terus diperkuat secara berkelanjutan.*


 

Read more info "Kolaborasi Keluarga dan Guru, Pemerintah Perkuat Dukungan Pendidikan 3 T" on the next page :

Berita Terkait

Populer