Belajar STEM dari Lingkungan, Murid SMP Negeri 1 Medan Raih Gold Medal di Malaysia

  • Selasa, 15 September 2026 - 10:01:14
  • Oleh admin

Riaupintar.com — Limbah kulit durian dan buah pedada yang tumbuh di kawasan mangrove mungkin terlihat sebagai persoalan sederhana. Namun, di tangan murid UPT SMP Negeri 1 Medan, dua potensi lingkungan tersebut justru diubah menjadi karya inovatif yang mampu bersaing di tingkat internasional.


Melalui pembelajaran berbasis Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM), murid UPT SMP Negeri 1 Medan mengembangkan berbagai karya ilmiah dengan berangkat dari persoalan dan potensi yang mereka temui di lingkungan sekitar.


Hasilnya, karya mereka berhasil meraih Gold Medal pada Malaysia Technology Expo (MTE) 2026 melalui proyek Durabata, yakni inovasi batako berbahan kulit durian dan abu sekam padi.


Selain itu, tim lainnya juga meraih sertifikat penghargaan pada 10th World Young Inventors Exhibition 2026 melalui proyek yang dikembangkan dari potensi buah pedada, buah dari pohon mangrove yang banyak ditemukan di kawasan pesisir.


Kedua ajang tersebut berlangsung di Kuala Lumpur, Malaysia.


Salah satu anggota Tim Karya Ilmiah Remaja UPT SMP Negeri 1 Medan, Aira Haryono, mengatakan inovasi Durabata berawal dari keprihatinan terhadap limbah kulit durian yang jumlahnya cukup besar di Indonesia.



“Kami membuat proyek yang diberi nama Durabata, merupakan batako berbasis kulit durian yang kami buat dari limbah kulit durian dan abu sekam padi. Tujuan kami membuat produk ini adalah untuk mengurangi limbah kulit durian yang bertebaran terutama di Indonesia,” ujar Aira saat ditemui di sekolahnya, Senin 14 September 2026.


Menurut Aira, timnya melihat kulit durian selama ini lebih banyak berakhir sebagai sampah. Dari persoalan tersebut, mereka kemudian mencari cara agar limbah tersebut dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai guna.


“Dengan Durabata ini, kami menciptakan batako yang ramah lingkungan serta menangani banyak masalah, terutama di Indonesia. Karena di Indonesia, masyarakat kita sangat gemar makan durian dan kulit duriannya itu hanya jadi sampah dan tidak diinovasikan ke mana-mana,” tuturnya.


Kulit durian selanjutnya diolah menjadi salah satu bahan pembuatan batako yang memiliki fungsi seperti batako pada umumnya.


Bagi Aira, proses mengembangkan Durabata menjadi pengalaman langsung dalam menerapkan prinsip STEM. Murid tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga belajar mengidentifikasi persoalan, mencari solusi, melakukan eksperimen hingga menghasilkan sebuah produk.



“STEM itu diperlukan karena kita ini perlu terus membuat inovasi-inovasi untuk menyelesaikan masalah yang ada di sekitar kita sehari-hari,” katanya.


Buah Pedada Diolah Jadi Minuman


Semangat serupa juga ditunjukkan Tim Milea. Nama Milea merupakan akronim yang berkaitan dengan mangrove dan milk tea.


Tim ini melihat buah pedada yang dihasilkan pohon mangrove belum banyak dimanfaatkan. Mereka kemudian mencoba mengolahnya menjadi produk minuman yang lebih praktis dan memiliki nilai ekonomi.


Salah satu anggota Tim Milea, Raisya Aurellia, mengatakan ide tersebut muncul setelah mereka mengamati potensi lingkungan yang belum dimanfaatkan secara optimal.


“Dikarenakan buah pedada yang dihasilkan pohon mangrove ini kan kurang dimanfaatkan. Jadi kami membuat inovasi ini agar lebih berguna dan bisa diperjualbelikan,” ujar Raisya.



Proses pembuatannya dilakukan melalui beberapa tahapan. Buah pedada yang diperoleh dari pedagang terlebih dahulu dikupas, dicuci, dan dipotong-potong. Selanjutnya, buah tersebut direbus dan disaring untuk mengambil ekstraknya.


Ekstrak buah pedada kemudian diolah dengan menambahkan susu kedelai sebagai sumber lemak, daun pandan sebagai pewarna alami, serta stevia sebagai pemanis. Hasilnya berupa minuman dengan cita rasa seperti teh susu.


“Cara bikinnya itu gampang. Jadi pertama kita kupas kulit buah pedada yang kami dapat dari para pedagang. Setelah itu dicuci lalu dipotong-potong kemudian direbus. Setelah direbus disaring untuk diambil ekstraknya,” jelas Raisya.


Menurut Raisya, inovasi tersebut masih dapat dikembangkan agar memiliki nilai ekonomi yang lebih besar. Salah satu gagasan yang muncul adalah mengolahnya menjadi produk berbentuk bubuk sehingga lebih praktis.


“Mungkin kita buat jadi bubuk supaya lebih praktis, setelah itu nanti bisa juga sebagai produk UMKM masyarakat pesisir pantai juga,” tambahnya.



Sekolah Beri Ruang untuk Bereksperimen


Pengembangan karya ilmiah murid tidak terlepas dari dukungan sekolah. Guru mata pelajaran IPS sekaligus pendamping kegiatan penelitian ilmiah remaja UPT SMP Negeri 1 Medan, Malahayati, mengatakan sekolah berupaya memberikan waktu dan ruang kepada murid untuk bereksperimen dan mengembangkan penelitian.


“Dukungan sekolah untuk karya ilmiah ini, sekolah memberikan waktu untuk anak-anak melakukan kegiatan aktivitas di sekolah dengan memberikan ruang. Kemudian, sekolah juga bekerja sama dengan orang tua,” ujar Mala.


Menurutnya, pembelajaran STEM penting untuk terus dikembangkan karena tidak hanya berkaitan dengan penguasaan pengetahuan, tetapi juga melatih kemampuan berpikir kritis dan mengaplikasikan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.


“Harapannya, ke depannya tentu saja diharapkan STEM ini merupakan bagian dari sekolah. Karena ini kan berkaitan dengan berpikir kritis dan STEM ini bisa diaplikasikan dalam kehidupan mereka. Jadi, diharapkan STEM dapat dikembangkan lebih maksimal lagi di sekolah,” tuturnya.


Mendikdasmen Apresiasi Inovasi Murid


Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) **Abdul Mu’ti** mengapresiasi kreativitas dan keberanian murid UPT SMP Negeri 1 Medan dalam mengembangkan karya berbasis STEM yang berangkat dari persoalan nyata di lingkungan sekitar.



“Prestasi murid UPT SMP Negeri 1 Medan menunjukkan bahwa pembelajaran yang dekat dengan kehidupan dapat mendorong lahirnya kreativitas dan inovasi. Melalui STEM, murid belajar melihat persoalan di sekitarnya, melakukan penelitian, mencoba berbagai solusi, dan menghasilkan karya yang bermanfaat”


Menurut Abdul Mu’ti, pembelajaran semacam itu menjadi bagian penting dalam membentuk murid yang mampu berpikir kritis, kreatif, sekaligus memberikan solusi terhadap persoalan di lingkungan dan masyarakat.


“Inilah semangat pembelajaran yang ingin kita tumbuhkan, agar murid menjadi pembelajar yang kritis, kreatif, dan mampu memberikan solusi bagi lingkungan dan masyarakat,” ujar Abdul Mu’ti.**

Read more info "Belajar STEM dari Lingkungan, Murid SMP Negeri 1 Medan Raih Gold Medal di Malaysia" on the next page :

Berita Terkait

Populer