Review Spider-Man Across the Spider-Verse Animasi Multiverse yang Menakjubkan

  • Selasa, 17 Juni 2025 - 14:38:51
  • Oleh admin

Setelah sukses besar film pertamanya, Spider-Man: Into the Spider-Verse, Sony Pictures Animation kembali menghadirkan sekuel yang lebih ambisius dan menakjubkan: Spider-Man: Across the Spider-Verse. Film ini tidak hanya memperluas semesta Spider-Man dengan menghadirkan banyak versi alternatif dari karakter ikonik tersebut, tetapi juga mengusung teknik animasi revolusioner yang menjadi pembeda dari film superhero lainnya.


Bagi para penggemar yang ingin menonton ulang film ini atau menjelajahi berbagai judul animasi lainnya, platform seperti idlix bisa menjadi salah satu pilihan alternatif untuk menikmati berbagai konten hiburan dengan mudah.


Kembalinya Miles Morales ke Dunia Multiverse


Across the Spider-Verse melanjutkan kisah Miles Morales, remaja dari Brooklyn yang telah menjadi Spider-Man di dunianya. Kali ini, ia dihadapkan dengan ancaman baru yang mengancam seluruh multiverse. Miles bertemu kembali dengan Gwen Stacy, dan keduanya menjelajah ke berbagai dunia paralel tempat Spider-Man hadir dalam banyak bentuk—dari Spider-Man India, Spider-Punk, hingga Spider-Woman yang sedang hamil.


Namun, konflik sebenarnya muncul ketika Miles mengetahui bahwa tidak semua Spider-Man sependapat tentang cara menyelamatkan multiverse. Di sinilah ketegangan emosional dan moral menjadi pusat cerita: apa arti menjadi pahlawan ketika harus memilih antara menyelamatkan satu orang atau menjaga kestabilan semesta?


Visual yang Revolusioner dan Artistik


Salah satu kekuatan terbesar film ini adalah animasinya yang luar biasa. Tiap semesta yang dikunjungi memiliki gaya visual unik yang mencerminkan karakter dan budaya masing-masing. Misalnya, dunia Spider-Punk tampil seperti komik zine bergaya grunge, sementara dunia Gwen Stacy berhiaskan palet warna cat air yang dinamis dan emosional.


Teknik animasi campuran—2D, 3D, rotoscoping, bahkan lukisan tangan—membuat Across the Spider-Verse terasa seperti galeri seni hidup. Tiap frame bisa dijadikan wallpaper. Detailnya begitu kaya, hingga pantas disebut sebagai salah satu film animasi tercantik sepanjang masa.


Karakter dan Pengembangan Emosi yang Kuat


Selain visual, kekuatan cerita film ini terletak pada pengembangan karakter. Miles Morales tumbuh sebagai remaja yang lebih dewasa dan berani mengambil keputusan sendiri, meskipun harus melawan arus. Ia tak lagi hanya mengikuti jejak Spider-Man sebelumnya, tapi mulai menciptakan jalan hidupnya sendiri.


Gwen Stacy pun mendapat porsi cerita yang kuat. Film ini mengulik kisah personal Gwen dan hubungannya dengan ayahnya, yang menambah dimensi emosional yang mendalam.


Sementara itu, tokoh antagonis The Spot tampil sebagai karakter unik yang awalnya dianggap lelucon, namun seiring cerita berkembang menjadi ancaman besar yang tak terduga.


Multiverse yang Tak Sekadar Gimmick


Berbeda dari beberapa film yang hanya menjadikan konsep multiverse sebagai alat cerita, Across the Spider-Verse benar-benar mengembangkan gagasannya. Film ini mengeksplorasi “canon events”—peristiwa penting dalam hidup Spider-Man yang harus terjadi di setiap semesta—dan mempertanyakan apakah takdir benar-benar tidak bisa diubah.


Pertanyaan-pertanyaan filosofis seperti “apakah kita dikendalikan oleh narasi?” dan “bolehkah kita melanggar aturan demi menyelamatkan orang yang kita cintai?” menjadi tema besar yang membuat film ini lebih dari sekadar tontonan aksi.


Soundtrack dan Suasana yang Menggugah


Soundtrack film ini, seperti pendahulunya, sangat mendukung suasana. Musik hip-hop, elektronik, dan orkestra berpadu menciptakan nuansa futuristik dan emosional yang pas dengan perjalanan Miles. Lagu-lagu seperti “Am I Dreaming” atau “Hummingbird” ikut memperkuat momen-momen penting sepanjang film.


Efek suara dan mixing-nya pun canggih, menyatu dengan gaya visual yang kaya tanpa saling menenggelamkan.


Ending Menggantung yang Memancing Antisipasi


Film ini diakhiri dengan cliffhanger yang sukses membuat penonton tak sabar menanti kelanjutannya di Spider-Man: Beyond the Spider-Verse. Tanpa membocorkan banyak, penutup film ini memperlihatkan betapa kompleks dan besarnya konflik yang akan dihadapi Miles selanjutnya.


Bukan hanya membuat penasaran, akhir film ini juga mempertegas identitas Miles sebagai sosok Spider-Man yang ingin mengukir takdirnya sendiri.


Spider-Man: Across the Spider-Verse bukan hanya sekuel, tetapi sebuah evolusi. Ia melampaui standar film superhero, menggabungkan teknologi animasi mutakhir, cerita emosional yang mendalam, dan konsep multiverse yang benar-benar dimanfaatkan dengan maksimal.


Bagi penggemar animasi, film ini adalah mahakarya visual dan naratif. Bagi penggemar Spider-Man, ini adalah perayaan besar dari keragaman dan kekuatan menjadi berbeda.


Film ini layak disaksikan ulang, dikaji, dan dinikmati dari berbagai sudut pandang—dan bagi kamu yang belum sempat menonton, situs seperti idlix dapat membantumu menjelajahi semestanya kembali.


Laporan Muhammad Irvan

Berita Terkait

Populer