Aktivitas penghijauan atau pembelajaran lingkungan di Riau
Green Pedagogy di Riau: Ketika Sekolah Menjadi Ruang Belajar untuk Menjaga Lingkungan
Kamis, 08 Oktober 2026 - 21:20:42
Oleh admin
Aktifitas penghijauan atau pembelajaran lingkungan di Riau
Riaupintar.com - Pendidikan lingkungan di Riau tidak lagi cukup disampaikan melalui ajakan untuk membuang sampah pada tempatnya atau menanam pohon. Di tengah persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kabut asap, sampah, hingga kerusakan ekosistem gambut dan pesisir, sekolah memiliki ruang yang lebih besar untuk membentuk generasi yang tidak hanya memahami lingkungan, tetapi juga mampu mengambil tindakan untuk menjaganya.
Gagasan tersebut sejalan dengan pendekatan green pedagogy atau pedagogi hijau, yakni pembelajaran yang menempatkan lingkungan, keberlanjutan, dan hubungan manusia dengan alam sebagai bagian penting dari proses pendidikan.
Dalam pendekatan ini, siswa tidak hanya mempelajari konsep lingkungan di dalam kelas, tetapi juga diajak melihat persoalan ekologis yang terjadi di sekitarnya, memahami penyebabnya, kemudian terlibat dalam upaya mencari solusi.
Riau memiliki berbagai persoalan lingkungan yang dapat menjadi sumber belajar nyata bagi peserta didik. Karhutla dan kabut asap, misalnya, bukan sekadar isu lingkungan yang muncul di media.
Dampaknya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat, termasuk terganggunya aktivitas pendidikan. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan lingkungan dan pendidikan memiliki hubungan yang sangat dekat.
Ketika kualitas udara menurun akibat kabut asap, proses belajar ikut terdampak. Karena itu, persoalan karhutla seharusnya tidak hanya dibahas ketika terjadi bencana, tetapi dapat menjadi bahan pembelajaran untuk membantu siswa memahami ekosistem gambut, perubahan lingkungan, pencemaran udara, kesehatan manusia, hingga perilaku manusia yang berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan.
Upaya mengintegrasikan persoalan lingkungan ke dalam pendidikan juga telah memiliki pijakan di Riau. Provinsi Riau sebelumnya telah meluncurkan pendidikan gambut dan mangrove sebagai materi muatan lokal pada jenjang SMA dan SMK. Materi tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana karakteristik lingkungan daerah dapat dihubungkan secara langsung dengan proses pendidikan di sekolah.
Implementasi green pedagogy juga dapat dilakukan melalui aktivitas sederhana di lingkungan sekolah. Kegiatan gotong royong, penghijauan, penanaman pohon, pemilahan sampah, penggunaan kembali barang yang masih dapat dimanfaatkan, pengurangan plastik sekali pakai, hingga pemeliharaan sanitasi dan drainase dapat menjadi bagian dari pengalaman belajar peserta didik.
Kegiatan tersebut penting karena pendidikan lingkungan tidak akan efektif apabila hanya berhenti pada penyampaian materi. Siswa perlu mengalami secara langsung bagaimana menjaga lingkungan. Ketika siswa memilah sampah, merawat tanaman, membuat kompos, mengamati kondisi drainase sekolah, atau melakukan pengamatan terhadap lingkungan sekitar, mereka sebenarnya sedang belajar bahwa tindakan manusia memiliki konsekuensi terhadap lingkungan.
Dalam konteks pembelajaran Biologi, lingkungan sekolah bahkan dapat dijadikan sebagai laboratorium belajar. Guru dapat mengajak siswa mengidentifikasi jenis sampah, mengamati keanekaragaman hayati, mempelajari kualitas air, mengukur kondisi lingkungan, hingga menganalisis hubungan antara aktivitas manusia dengan perubahan lingkungan.
Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya menjawab pertanyaan “apa yang terjadi pada lingkungan?”, tetapi juga “mengapa hal tersebut terjadi, siapa yang terdampak, dan apa yang dapat kita lakukan?”. Pertanyaan tersebut dapat mendorong siswa untuk berpikir kritis sekaligus melihat bahwa pengetahuan yang mereka pelajari memiliki kaitan dengan kehidupan sehari-hari.
Pendekatan tersebut menjadi semakin penting bagi Riau yang memiliki ekosistem gambut dan mangrove yang sangat bernilai. Persoalan lingkungan yang ada di daerah seharusnya menjadi bagian dari pengalaman belajar siswa sehingga pendidikan tidak terasa terpisah dari kehidupan sehari-hari.
Green pedagogy pada akhirnya bukan sekadar membuat sekolah terlihat lebih hijau. Lebih dari itu, pendekatan ini berupaya membentuk cara berpikir dan kebiasaan baru. Sekolah menjadi tempat siswa belajar bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tugas pemerintah atau petugas kebersihan, melainkan tanggung jawab bersama.
Riau memiliki persoalan lingkungan yang nyata. Karena itu, pendidikan juga perlu hadir dengan cara yang nyata. Dari ruang kelas, halaman sekolah, lingkungan sekitar hingga ekosistem gambut dan pesisir, semuanya dapat menjadi ruang belajar untuk membentuk generasi yang memahami lingkungan sekaligus berani mengambil bagian dalam menjaganya.
Jika pendidikan mampu menghubungkan pengetahuan dengan pengalaman dan tindakan, maka sekolah tidak hanya menghasilkan siswa yang mengetahui tentang lingkungan, tetapi juga generasi yang peduli, mampu berpikir kritis, dan terbiasa mengambil tindakan untuk keberlanjutan lingkungan Riau.
Penulis: Fika Nurfahriza
Read more info "Green Pedagogy di Riau: Ketika Sekolah Menjadi Ruang Belajar untuk Menjaga Lingkungan" on the next page :