Diikuti 40 Perguruan Tinggi

ISOLLEAC 2026 di Pekanbaru Bahas Transformasi Bahasa, Seni, dan Budaya di Era AI

  • Rabu, 04 November 2026 - 14:50:31
  • Oleh admin
Riaupintar.com – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Riau (Unri) menggelar The 4th International Seminar on Language, Literature, Education, Arts, and Culture (ISOLLEAC) 2026 di The Zuri Hotel Pekanbaru, 3–5 November 2026.


Konferensi internasional yang bekerja sama dengan Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Negeri (BKS PTN) Wilayah Barat ini diikuti 203 peserta dari 34 perguruan tinggi di Indonesia dan enam perguruan tinggi luar negeri.


Kegiatan yang berlangsung secara hibrida, yakni secara tatap muka dan daring, tersebut dibuka pada Rabu 4:November 2026 oleh Rektor Unri, Prof. Dr. Sri Indarti, S.E., M.Si., yang diwakili Wakil Rektor, Dr. Mexsasai Indra, S.H., M.H.


Dalam sambutan tertulisnya, Rektor Unri menegaskan bahwa ISOLLEAC memiliki arti strategis bagi perguruan tinggi negeri di wilayah barat Indonesia, terutama dalam menjaga mutu akademik, menyelaraskan kurikulum, serta memperkuat kolaborasi riset di bidang bahasa, sastra, seni, dan budaya sesuai standar nasional.


Menurutnya, penyelenggaraan ISOLLEAC keempat menjadi bukti komitmen perguruan tinggi negeri di wilayah barat untuk memperluas jejaring kerja sama sekaligus memperkuat internasionalisasi akademik.



Rektor juga menitipkan tiga agenda strategis untuk pengembangan riset dan akademik melalui BKS PTN Wilayah Barat.


Pertama, memperkuat riset berbasis budaya Melayu. Upaya ini sejalan dengan keberadaan Pusat Kolaborasi Riset (PKR) Ketahanan Pangan dan Masyarakat Adat Berbasis Manuskrip Melayu di Universitas Riau.


Unri berharap BKS PTN Wilayah Barat dapat membentuk konsorsium riset manuskrip Melayu Nusantara yang melibatkan berbagai perguruan tinggi, mulai dari Aceh, Minangkabau, Riau, hingga Lampung.


“Kita punya manuskrip di Aceh, Minangkabau, Melayu Riau, hingga Lampung. Mari kita hilirisasi menjadi kamus digital, bahan ajar berbasis AI, dan Unri siap menjadi inisiator,” ujarnya.


Kedua, mempercepat hilirisasi hasil penelitian agar tidak berhenti pada publikasi prosiding, tetapi juga menghasilkan produk yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Bentuk hilirisasi yang diharapkan antara lain animasi sastra lisan dan aplikasi pembelajaran bahasa daerah.



Ketiga, memperkuat kolaborasi jurnal ilmiah dan meningkatkan jumlah guru besar di bidang bahasa, sastra, seni, dan budaya.


Dalam hal ini, Unri menyatakan kesiapannya memfasilitasi pembentukan jurnal internasional bereputasi yang terindeks Scopus dan dikelola bersama oleh BKS PTN Wilayah Barat.


Melalui berbagai agenda tersebut, ISOLLEAC 2026 diharapkan tidak sekadar menjadi forum pertukaran gagasan akademik, tetapi juga melahirkan kolaborasi riset dan inovasi yang berkontribusi terhadap pengembangan pendidikan, pelestarian budaya, serta penguatan jejaring perguruan tinggi di tingkat internasional.


Ketua BKS PTN Wilayah Barat Bidang Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya, Prof. Dr. Ermanto, S.Pd., M.Hum., mengatakan tema ISOLLEAC 2026 sangat relevan dengan perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).


Menurutnya, perkembangan AI tidak dapat dihindari karena telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, termasuk dalam kegiatan akademik, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.



Ia berharap pemanfaatan AI dapat membuka dimensi baru dalam pengembangan bahasa dan sastra, baik untuk pelestarian maupun penciptaan karya. Di sisi lain, kolaborasi global juga diperlukan untuk memperkuat dialog antarbudaya serta menjembatani tradisi lokal dengan modernitas.


“Melalui inovasi AI, bahasa dan sastra diberi dimensi baru dalam pelestarian serta penciptaan, dan memastikan ekosistem seni tetap hidup,” katanya.


Dekan FKIP Unri, Prof. Dr. Jimmi Copriady, M.Si., menyampaikan apresiasi atas kehadiran para dekan, pakar pendidikan, guru besar, dan dosen dari berbagai perguruan tinggi negeri di wilayah barat Indonesia.


Ia menegaskan bahwa pertemuan tersebut bukan sekadar ruang diskusi teoretis mengenai bahasa, sastra, seni, dan budaya. Lebih dari itu, forum ini memiliki tanggung jawab untuk mentransformasikan berbagai bidang keilmuan tersebut ke dalam dunia pendidikan.


Menurutnya, para akademisi bertanggung jawab mempersiapkan calon pendidik yang mampu mengajarkan ilmu humaniora secara adaptif di era digital, tanpa kehilangan akar budaya dan karakter luhur bangsa.



“Forum tahunan ini menjadi momentum krusial bagi kita untuk menyelaraskan kurikulum LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan), memperkuat kolaborasi riset, serta saling bertukar inovasi pengajaran,” ujarnya.


Sementara itu, Ketua Panitia ISOLLEAC 2026, Prof. Afrianto, M.Ed., Ph.D., mengatakan konferensi internasional ini menjadi wadah bagi dosen, peneliti, guru, mahasiswa, dan praktisi untuk berbagi hasil penelitian serta gagasan di bidang bahasa, sastra, pendidikan, seni, dan budaya.


Ia berharap forum tersebut dapat mendorong terbentuknya kolaborasi antarpeserta, baik dalam bentuk publikasi ilmiah, kegiatan pengajaran, maupun pertukaran pengetahuan di perguruan tinggi masing-masing.


“Ini menjadi sarana bagi dosen untuk saling berbagi hasil penelitian. Dari sharing penelitian tersebut diharapkan terjalin kolaborasi, baik dalam bentuk publikasi, mengajar, maupun berbagi pengalaman di kampus masing-masing. Tentu ini juga menjadi ajang silaturahmi antardosen di wilayah barat,” ujarnya.


Afrianto menjelaskan, ISOLLEAC 2026 mengakomodasi 203 proposal penelitian yang diseminarkan dan dipresentasikan. Hasil konferensi tersebut selanjutnya akan dipublikasikan dalam bentuk jurnal ilmiah.



Selain menghasilkan publikasi, konferensi ini diharapkan melahirkan sejumlah rekomendasi untuk mendukung pengembangan perguruan tinggi di wilayah barat Indonesia.


Tahun ini, ISOLLEAC mengusung tema “Transforming Language, Literature, Arts and Culture through AI-Driven Innovation, Sustainable Practices, and Global Collaboration.”


Tema tersebut dijabarkan ke dalam enam subtema, yaitu Language Teaching and Learning; Applied Linguistics and Language Studies; Literature Studies; Arts and Cultural Studies; Artificial Intelligence, Digital Innovation and Education; serta Sustainability, Global Collaboration and Interdisciplinary Research.


Konferensi ini menghadirkan empat pembicara utama dari dalam dan luar negeri, yakni Prof. Masaki Ono, Ph.D., dari University of Tsukuba, Jepang; Prof. Dr. Hasnah Faizah AR, M.Hum., dari Universitas Riau; Assoc. Prof. Adrian Rodgers, Ph.D., dari Ohio State University, Amerika Serikat; serta Dr. (c) Yacinta Kurniasih, M.Ed., dari Monash University, Australia.


Selain seminar internasional, kegiatan ini dirangkaikan dengan Annual Meeting SEMIRATA BKS-PTN Barat Bidang Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya, rapat tahunan BKS PTN Wilayah Barat, pemilihan tuan rumah konferensi tahun berikutnya, serta pemilihan ketua BKS PTN Wilayah Barat.



Rangkaian kegiatan berlangsung selama tiga hari. Agenda diawali dengan gala dinner pada 3 November, dilanjutkan seminar dan rapat tahunan pada 4 November, serta kegiatan excursion pada 5 November.


Konferensi internasional ini turut disponsori Japan Foundation dan mendapat dukungan Diktisaintek Berdampak.(nik) 


Read more info "ISOLLEAC 2026 di Pekanbaru Bahas Transformasi Bahasa, Seni, dan Budaya di Era AI" on the next page :

Berita Terkait

Populer