Bukan Sekadar Ruang Kelas, Mendikdasmen Dorong Lingkungan Sekolah Jadi Sarana Belajar
Sabtu, 10 Oktober 2026 - 16:25:41
Oleh admin
Riaupintar.com – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mendorong satuan pendidikan memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar untuk mendukung penerapan pembelajaran mendalam (deep learning).
Hal tersebut disampaikannya saat mengunjungi SMA Negeri 1 Patikraja, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, dalam rangka meninjau pelaksanaan Program Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun Anggaran 2026, Sabtu 10 Oktober 2026.
Menurut Abdul Mu’ti, lingkungan sekolah dapat dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran kontekstual yang membantu murid menghubungkan pengetahuan di kelas dengan kehidupan sehari-hari. Melalui pengalaman langsung, murid dapat mengenali berbagai jenis tanaman, mempelajari karakteristiknya, serta memahami manfaatnya bagi lingkungan.
Salah satu langkah sederhana yang dapat diterapkan ialah memasang papan informasi pada pohon-pohon di lingkungan sekolah. Papan tersebut dapat memuat nama pohon, nama ilmiah, karakteristik, hingga manfaatnya.
Dengan pendekatan ini, lingkungan sekolah tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar, tetapi juga menjadi sumber pengetahuan yang mendorong murid untuk mengamati, bertanya, dan meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan.
Mendikdasmen menjelaskan, pemanfaatan lingkungan sekolah merupakan bagian dari penerapan pembelajaran mendalam yang didukung oleh penciptaan lingkungan belajar yang kondusif.
“Namanya deep learning itu antara lain terintegrasi dengan penciptaan lingkungan sekolah yang disebut dengan hidden curriculum,” ujar Mu’ti.
Konsep hidden curriculum atau kurikulum tersembunyi merujuk pada nilai, kebiasaan, dan pengalaman yang dipelajari murid melalui lingkungan serta aktivitas sehari-hari di sekolah. Melalui pendekatan tersebut, sekolah diharapkan tidak hanya meningkatkan pengetahuan akademik, tetapi juga membentuk karakter dan menumbuhkan rasa ingin tahu murid.
Tinjau Revitalisasi Sekolah
Dalam kunjungan tersebut, Abdul Mu’ti turut meninjau pelaksanaan Program Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun Anggaran 2026 di SMA Negeri 1 Patikraja.
Pekerjaan revitalisasi di sekolah tersebut meliputi pembangunan dua ruang baru dan rehabilitasi tiga ruang. Selain itu, area dak juga berpotensi dikembangkan menjadi ruang kelas pada masa mendatang dengan mempertimbangkan kebutuhan sekolah dan kelayakan teknis.
Ia menekankan pentingnya pengelolaan dan pemeliharaan fasilitas pendidikan secara bertanggung jawab agar sarana yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan untuk mendukung pembelajaran murid.
Di Provinsi Jawa Tengah, Program Revitalisasi Satuan Pendidikan pada 2025 menjangkau 1.783 sekolah atau satuan pendidikan dengan total anggaran Rp1,475 triliun. Program tersebut juga menyerap 23.430 tenaga kerja.
Sementara itu, pada 2026, sebanyak 5.443 sekolah telah menandatangani perjanjian kerja sama (PKS) dengan nilai mencapai Rp4,169 triliun. Hingga data yang tersedia, penyaluran dana telah dilakukan kepada 4.597 sekolah dengan total Rp2,434 triliun. Program tersebut tercatat menyerap 62.609 tenaga kerja.
Khusus di Kabupaten Banyumas, program revitalisasi pada 2025 menjangkau 30 sekolah atau satuan pendidikan dengan total anggaran Rp29,786 miliar dan menyerap 499 tenaga kerja.
Pada 2026, sebanyak 176 sekolah telah menandatangani PKS senilai Rp114,875 miliar. Penyaluran dana telah dilakukan kepada 156 sekolah dengan total Rp69,387 miliar, dengan serapan tenaga kerja mencapai 1.996 orang.
Tekankan Persiapan Akademik dan Mental Hadapi TKA
Selain meninjau revitalisasi sekolah, Abdul Mu’ti juga berinteraksi dengan murid dan memberikan pesan mengenai pentingnya persiapan menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA).
Ia menekankan tiga aspek utama yang perlu dipersiapkan murid, yakni penguasaan materi, strategi mengerjakan soal, dan kesiapan mental.
“Pertama, kuasai materi. Kedua, siapkan strategi. Ketiga, persiapkan mental. Ketiga itu adalah kuncinya,” tegas Abdul Mu’ti.
Menurutnya, ketiga aspek tersebut harus berjalan seimbang. Penguasaan materi saja tidak cukup apabila murid tidak memiliki strategi yang tepat atau mengalami tekanan mental ketika menghadapi soal ujian.
“Materi dikuasai tetapi jika strateginya salah, kalian tidak bisa menguasai materinya dengan baik. Tapi strateginya oke, mentalnya down, lihat soal sudah stres dulu, tidak ada hasilnya. Makanya kita membuat moto jujur dan gembira,” ujarnya.
Abdul Mu’ti juga mengingatkan murid agar tidak merasa minder ketika menghadapi soal dengan bacaan panjang. Ia menjelaskan bahwa soal TKA disusun dengan mengacu pada standar PISA (Programme for International Student Assessment).
Karena itu, murid diharapkan tidak hanya memahami materi pelajaran, tetapi juga mampu menerapkan strategi pengerjaan soal dan menjaga ketenangan agar dapat menunjukkan kemampuan secara optimal.
Menutup pesannya, Abdul Mu’ti mengingatkan bahwa pendidikan memiliki peran penting dalam menentukan masa depan murid sekaligus meningkatkan kontribusi mereka bagi masyarakat dan bangsa.
“Jangan percaya kalau ada orang bilang tidak usah sekolah penting-penting, yang penting pintar. Tidak ada orang pintar tanpa sekolah. Sekolah itu intinya membuat kita sukses. Pendidikan juga bisa membuat kita melakukan lebih baik dan lebih banyak bagi orang lain dan bangsa,” pesan Mendikdasmen Abdul Mu’ti.**
Read more info "Bukan Sekadar Ruang Kelas, Mendikdasmen Dorong Lingkungan Sekolah Jadi Sarana Belajar" on the next page :