Dari Sawah hingga Ruang Kelas, Kemendikdasmen Dekatkan STEM dengan Dunia Anak

  • Kamis, 03 September 2026 - 18:25:17
  • Oleh admin

Riaupintar.com — STEM selama ini kerap dianggap sebagai pembelajaran yang sulit dan membutuhkan biaya besar. Kemendikdasmen ingin mengubah pandangan tersebut dengan menghadirkan pembelajaran yang mudah, murah, menggembirakan, mindful, dan meaningful, bahkan melalui lingkungan sederhana yang setiap hari ditemui anak.


Belajar sains tak selalu membutuhkan laboratorium mahal atau peralatan berteknologi tinggi. Justru, lingkungan sekitar dan rasa ingin tahu anak dapat menjadi ruang belajar yang kaya.


Cara pandang tersebut didorong Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui pembelajaran Sains, Teknologi, Enjinering, dan Matematika (STEM) dengan pendekatan 5M: Mudah, Murah, Menggembirakan, Mindful, dan Meaningful.


Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti mengatakan, perubahan pola pikir menjadi kunci agar pembelajaran sains dapat hadir lebih dekat dengan kehidupan anak.


“Bangun mindset menentukan bagaimana kita melakukan sesuatu sehingga mindset kita ubah dengan science itu mudah. Semua orang bisa menjadi saintis dan murah, tidak harus membeli peralatan lab yang mahal. Bisa dari keseharian, di mana anak-anak menemukan banyak hal di sekitarnya, dan belajar sains itu menggembirakan, mindful dan meaningful,” ujarnya.



Menurut Abdul Mu'ti, pendekatan tersebut perlu dikenalkan sejak pendidikan anak usia dini (PAUD), sejalan dengan gagasan wajib belajar 13 tahun dan pengenalan sains sejak taman kanak-kanak.


Anak, kata dia, perlu diberi ruang untuk bertanya dan mengeksplorasi lingkungan tanpa dibatasi rasa takut. “Mereka bisa tanya apa saja dan semuanya spontan sehingga sains bisa menggembirakan kalau rasa ingin tahu itu tidak kita batasi dan takut-takuti,” katanya.


Salah satu contohnya adalah mengajak anak belajar langsung di lingkungan sekitar. Di sawah, misalnya, anak dapat mengamati rumput, padi, katak, belalang, semut, hingga berbagai fenomena yang mereka temui.


Pengalaman tersebut membantu anak memahami bahwa sains bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan mereka. “Sains tidak boleh menjauhkan dari lingkungan alam di mana mereka berada karena alam adalah tempat belajar,” ujar Abdul Mu'ti.


Ia juga menekankan pentingnya memberi kesempatan kepada anak untuk mencipta dan bereksplorasi. Pengalaman langsung dinilai mampu memancing rasa ingin tahu sekaligus membuat proses belajar berlangsung dalam suasana yang menyenangkan.


“Kita dorong mereka mencipta. Pengalaman itu sangat penting untuk memancing rasa ingin tahu mereka dalam suasana yang menggembirakan,” katanya.



Ubah Stigma STEM Mahal dan Sulit


Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Nunuk Suryani mengatakan, salah satu tantangan dalam penerapan STEM adalah stigma bahwa bidang tersebut membutuhkan biaya besar dan sulit diterapkan di sekolah.


“Kami menyadari, selama ini STEM diidentikkan sebagai bidang mahal dan sulit untuk diterapkan dalam pembelajaran. Stigma ini menjadi salah satu alasan mendorong kami untuk merancang Program STEM secara menyeluruh, termasuk di dalamnya penguatan kompetensi guru melalui pelatihan STEM yang mengusung prinsip 5M, yaitu Mudah, Murah, Menggembirakan, Mindful, dan Meaningful,” tutur Nunuk.


Melalui pendekatan 5M, Kemendikdasmen ingin STEM tidak sekadar menjadi materi pembelajaran di kelas, tetapi berkembang menjadi cara berpikir dalam keseharian murid.


Anak didorong untuk mengamati persoalan, bertanya, mencari solusi, mencoba, mengevaluasi, hingga menciptakan sesuatu yang bermakna. Dalam proses tersebut, guru berperan sebagai penggerak utama agar pengalaman belajar tumbuh secara alami, menyenangkan, sekaligus relevan dengan lingkungan anak.


“Peluncuran ini bukan sebagai awal kegiatan, tetapi menjadi sebuah katalis dalam praktik pedagogis yang menghubungkan konsep lintas disiplin dengan konteks nyata sekaligus memfasilitasi praktik saintifik, enjinering, komunikasi ilmiah, dan kolaborasi,” lanjut Nunuk.



Guru Merasakan Dampak Pembelajaran STEM


Pendekatan tersebut juga dirasakan para guru di lapangan. Fitri Anggraeni, guru RA Miftahul Falah Dawe, mengaku senang dengan peluncuran STEM Nasional.


Ia mengatakan, dirinya baru menyadari bahwa sejumlah aktivitas pembelajaran yang selama ini dilakukan ternyata sudah merupakan bentuk penerapan STEM.


Alhamdulillah, memang sedikit banyak aktivitas pembelajaran selama ini ternyata sudah terkait dengan STEM. Anak-anak memang terlihat lebih bersemangat mengikuti pelajaran ketika diajak dalam suasana bermain. Seperti membuat bangun ruang menggunakan kardus, belajar numerasi sambil bernyanyi, dan lain-lain,” jelas Fitri.


Pengalaman serupa disampaikan Syafaatun Nimah, guru RA Miftahul Huda 1 Dawe. Menurutnya, penerapan STEM membuat proses belajar menjadi lebih kaya karena anak tidak hanya menerima materi, tetapi juga aktif merespons dan mengeksplorasi.


“Tak jarang saya takjub dengan reaksi dan umpan balik yang diberikan anak-anak. Sebab, sering kali justru saya belajar dari mereka. Ruang interaksi antara guru dan murid, membuat saya belajar hal baru dan terpacu untuk menjadi pengajar yang lebih baik lagi untuk anak-anak,” ungkapnya.



Pada akhirnya, pembelajaran STEM yang didorong Kemendikdasmen berangkat dari gagasan sederhana: sains tidak harus rumit, mahal, atau jauh dari kehidupan anak. Sawah, halaman sekolah, benda di sekitar, bahkan aktivitas bermain dapat menjadi laboratorium pertama untuk menumbuhkan rasa ingin tahu, kreativitas, kemampuan memecahkan masalah, dan kegemaran belajar sejak dini. **

Read more info "Dari Sawah hingga Ruang Kelas, Kemendikdasmen Dekatkan STEM dengan Dunia Anak" on the next page :

Berita Terkait

Populer