SPMB PAUD Ramah Anak, Belajar Lewat Bermain Jadi Fondasi Pendidikan Sejak Dini

  • Minggu, 05 Juli 2026 - 16:37:12
  • Oleh admin

Riaupintar.com – Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) pada jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) kini tidak lagi sekadar menjadi proses administrasi. Sejumlah sekolah mulai menerapkan pendekatan yang lebih ramah anak dengan mengedepankan kegiatan bermain, interaksi, dan pengenalan lingkungan sekolah sebagai langkah awal membangun karakter serta kesiapan belajar.


Praktik tersebut diterapkan di TK 'Aisyiyah Terpadu Birrul Walidain, Kudus. Saat mengikuti orientasi, calon murid baru tidak dihadapkan pada tes membaca, menulis, maupun berhitung. Sebaliknya, mereka diajak bermain bersama teman sebaya sambil berkenalan dengan guru dan lingkungan sekolah dalam suasana yang menyenangkan.


Bagi para pendidik, kegiatan itu menjadi bagian dari asesmen awal untuk mengenali karakter, kemampuan, dan kebutuhan setiap anak. Sementara bagi orang tua, pendekatan tersebut memberikan rasa tenang karena proses adaptasi berlangsung secara alami tanpa tekanan.


Eni Uswati menjadi salah satu orang tua yang merasakan pengalaman tersebut saat mendaftarkan putri bungsunya melalui SPMB.


"Persyaratannya cukup membawa akta kelahiran, Kartu Keluarga, dan pas foto. Setelah diverifikasi, kami mengikuti orientasi bersama anak. Anak-anak diajak asesmen awal agar guru mengenal karakter mereka sejak awal," ujar Eni.



Menurutnya, kepercayaan terhadap sekolah itu dibangun dari pengalaman tiga anaknya yang lebih dulu mengenyam pendidikan di tempat yang sama.


"Guru-gurunya sangat peduli. Anak saya yang dulu sangat aktif sekarang menjadi lebih terarah, lebih fokus, dan mulai terbiasa menjalankan ibadah. Kami berharap anak yang sekarang juga mendapatkan fondasi agama, ilmu pengetahuan, dan kemandirian sebagai bekal untuk jenjang berikutnya," katanya.


Hal senada disampaikan Fathur Rohman. Setelah putranya menempuh pendidikan di Kelompok Bermain, ia kembali mempercayakan pendidikan anaknya di TK yang sama.


Menurutnya, pendidikan usia dini seharusnya menjadi ruang bagi anak untuk bertumbuh, bukan sekadar mengejar kemampuan akademik.


"Kami merasa prosesnya sangat baik. Orang tua diberikan penjelasan, sementara anak-anak dikenalkan dengan lingkungan sekolah melalui kegiatan yang menyenangkan. Harapan kami, anak menjadi lebih mandiri, lebih bertanggung jawab, dan semakin berkarakter," ujarnya.



Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, menegaskan bahwa pendidikan anak usia dini memegang peran penting dalam membentuk kualitas sumber daya manusia di masa depan.


"Hampir semua teori pendidikan menyebutkan bahwa tujuh tahun pertama kehidupan merupakan masa yang paling menentukan. Pendidikan anak usia dini adalah fondasi bagi seluruh proses pendidikan selanjutnya," katanya.


Karena itu, pemerintah memasukkan PAUD ke dalam program Wajib Belajar 13 Tahun. Pemerintah juga memperluas dukungan melalui Program Indonesia Pintar (PIP) bagi peserta didik TK dari keluarga sasaran, serta terus meningkatkan kompetensi tenaga pendidik PAUD.


Abdul Mu'ti mengingatkan agar sekolah tidak memberikan beban akademik yang berlebihan kepada anak usia dini.


"Jangan membebani anak-anak TK dengan tuntutan akademik yang berlebihan. Pendidikan di usia dini adalah ruang bagi anak untuk bermain, bersosialisasi, membangun rasa percaya diri, melatih motorik, menanamkan kebiasaan baik, dan membangun karakter," tegasnya.



Semangat itu diwujudkan dalam pelaksanaan SPMB di TK 'Aisyiyah Terpadu Birrul Walidain. Kepala sekolah, Ami, mengatakan proses penerimaan murid baru dirancang terbuka sekaligus menjadi awal membangun kemitraan dengan orang tua.


"Kami ingin memastikan setiap orang tua memahami sejak awal visi sekolah, kurikulum, hingga pola kolaborasi yang akan dibangun. TK bukan tempat berlomba agar anak cepat bisa membaca, tetapi tempat membangun fondasi akhlak, karakter, dan kesiapan belajar," jelasnya.


Ketua Panitia SPMB, Lelly, menambahkan layanan pendaftaran disediakan secara fleksibel, baik melalui layanan tatap muka, daring, maupun WhatsApp agar mudah diakses masyarakat.


"Target kami sederhana, orang tua merasa tenang saat mendaftarkan anaknya. Karena itu kami menyediakan berbagai jalur komunikasi, mendampingi selama proses pendaftaran, dan memastikan setiap berkas diverifikasi secara teliti," ujarnya.


Pelaksanaan SPMB yang ramah anak menunjukkan bahwa penerimaan murid baru bukan hanya tentang memenuhi persyaratan administrasi. Lebih jauh, proses tersebut menjadi pintu masuk membangun kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan pemerintah untuk menumbuhkan karakter, kemandirian, serta kecintaan anak terhadap belajar sejak usia dini.



Melalui pendekatan bermain yang sesuai dengan tahap perkembangan anak, pengalaman pertama di sekolah diharapkan menjadi momen yang menyenangkan sekaligus menjadi fondasi kuat bagi perjalanan pendidikan mereka di masa depan.**

Read more info "SPMB PAUD Ramah Anak, Belajar Lewat Bermain Jadi Fondasi Pendidikan Sejak Dini" on the next page :

Berita Terkait

Populer